3 Poin Harapan dan Tantangan KPU Binjai pada Pilkada 2020

0
111

Suarabinjai–Ketua Divisi Sosialisasi, SDM/Parmas KPU Binjai, Robby Efendi menarget partisipasi KPU Kota Binjai untuk Pilkada 2020 sebesar 77,5 persen. Target ini sama dengan target nasional yang dicanangkan oleh KPU RI.

“Pileg dan Pilpres 2019 kemarin capaian tingkat Parmas Kota Binjai itu 81 persen, untuk Pilkada 2020 kita targetkan 77,5 persen,” kata Robby Efendi, Selasa (7/7/2020).

Robby mengakui dari target partisipasi tahun ini terbilang terjadi penurunan.

Katanya, ada tiga faktor yang bakal memengaruhui partisipasi pemilih pada pilkada 2020 mendatang.

“Faktor yang memengaruhi seperti administrasi, politik dan pandemi Covid-19. Kondisi senada ini juga telah jadi analisis bersama Ketua KPU Sumut dalam seminar web Pilkada di tengah pandemi membahas harapan dan tantangan,” jelasnya.

Penurunan target ini telah dibahas dari sejumlah elemen, seperti Komisioner KPU RI, Dekan Fisip USU Muryanto Amin, Direktur Perludem Titi Anggraini, Puskapol UI Hurriyah dan Ketua Bawaslu Sumut Syafrida R Rasahan.

Ketua KPU Sumut, Herdensi menyampaikan persoalan administrasi yang memveri pengaruh di antaranya pemilih tidak terdaftar, pemilih tidak memenuhi syarat namun masuh terdaftar.

Termasuk juga pemilih berkebutuhan khusus tidak teridentifikasi dengan baik.

Lanjut Herdensi, permasalahan partisipasi politik bisa disebabkan karena kualitas eksekutif hasil pilkada rendah. Artinya masyarakat tidak puas dengan kinerja pemerintah hingga kondisi masyarakat tidak mengalami perbaikan.

“Pemilu serentak yang digelar di massa pandemi Covid-19 merupakan tantangan besar bagi kita penyelenggara pemilu,” ungkap Herdensi.

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini mengatakan keterlibatan publik harus dibangun sejak awal, bukan hanya partisipasi di hari-H.

Kepada seluruh penyelenggara harus bisa meyakinkan publik bahwa pilkada 2020 adalah pilkada sehat dengan KPU promotor protokol kesehatan.

“Pendidikan pemilih dan sosialisasi informasi kepemiluan harus didekati sebagai proses berkelanjutan. Serta harus mengajak keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pendekatan harus berbasis komunitas atau kelompok sasaran,” pungkas Titi.

(suarabinjai.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here