Curhat Pilu Ibu Aurellia, Buka-buka Anak Dipukul Senior di Paskibraka, Putri Alami Teror Psikologis

0
171

Suarabinjai,- Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Tangerang Selatan, Aurellia Qurratu Aini (16), mengalami banyak penderitaan di tangan seniornya sebelum meninggal dunia mendadak, Kamis (1/8/2019).

Di antara penderitaan yang dialami mendiang Aurellia semasa hidup di tangan seniornya adalah push up cincin, pemukulan, hingga makan kulit jeruk.

Dikutip, Sabtu (3/8/2019), paman Aurellia, Indra, yang dulunya juga anggota Paskibraka mengungkapkan latihan keras yang dijalani Aurellia berbeda dengan latihan Paskibraka lainnya.

“Saya juga Paskibraka. Keluarga kami Paskibra. Ayah dan ibu Aurel juga Paskibra, tapi latihannya tidak sekeras itu,” kata Indra saat ditemui di rumah duka, Taman Royal, Cipondoh, Tangerang, Kamis (1/8/2019).

Di antara perintah senior dalam latihan keras Paskibraka Aurellia adalah push up cincin.

“Dia pernah cerita ke kami, kalau di Tangsel itu latihannya mengenal sebutan latihan cincin.”

“Yaitu push up di aspal dengan cara tangan mengepal, sehingga jari-jari cincin tangan menghitam,” terang Indra.

Selain latihan cincin, Farid Abdurrahman ayahanda Aurellia menceritakan soal perintah senior untuk memakan jeruk beserta kulit-kulitnya.

Tak selesai sampai makan kulit jeruk, Aurellia ternyata juga mengaku dipukul oleh seniornya.

Paman Aurellia yang bernama Romi menduga Aurellia menjadi korban perpeloncoan seniornya, mengingat Aurellia juga mengaku pernah dipukul oleh seniornya di Paskibraka.

“Tubuhnya lebam membiru. Dia (Aurellia) juga sempat cerita kalau pernah dipukul oleh seniornya di Paskibra,” kata Romi.

Penyiksaan yang diterima Aurellia juga meliputi perintah menulis ulang diary yang sudah ditulis Aurellia selama hampir sebulan namun dirobek seniornya.

Farid menyebut hal yang dilakukan senior Paskibraka terhadap Aurellia itu mengakibatkan kondisi mental dan fisik putrinya down atau menurun.

Dengan seluruh latihan berat serta beban menulis ulang diary membuat Farid berpikir senior Paskibraka Aurellia memberi teror psikologis pada putrinya.

Pasalnya, Aurellia sudah susah payah menulis diary ‘Merah Putih’ selama 22 hari seperti perintah senior Paskibraka dan dirobek begitu saja.

Perobekan buku diary milik Aurellia itu dilakukan senior Paskibraka setelah mengoreksi isinya.

Setelah dirobek, Aurellia diharuskan menulis ulang seluruh isi buku tersebut dalam waktu dua hari saja.

Mengetahui hal itu, Farid prihatin terhadap kondisi putrinya yang harus begadang hingga dini hari demi menyalin seluruh isi diary ke buku yang baru.

Farid menyebut tindakan senior Aurellia ini memberi dampak luar biasa bagi kesehatan jasmani dan rohani putrinya.

“Ini salah satu bentuk psikologis yang luar biasa kalau menurut kami mengakibatkan down mental dan fisik.”

“Akhirnya dia jam 1 mencoba bangun untuk nulis lagi, enggak bisa selesai,” kata Farid.

Puncaknya saat jam menunjukkan pukul 04.00 WIB dan Aurellia semakin melemah hingga ambruk seketika.

“Jam 4 dia berusaha mau mulai aktivitas. Karena mulai jam 4 dia sudah limbung badannya.”

“Sudah capeknya dia limbung, langsung enggak sadar, kita bawa ke rumah sakit. Ternyata sudah tidak tertolong,” terang Farid.

Pihak rumah sakit tidak memberikan diagnosa apapun lantaran Aurellia dinyatakan sudah tiada sesampainya di sana.

“Dokter tidak keluarkan diagnosa karena ketika kita bawa kesana (RS) bahwa Almarhum sudah meninggal,” kata Farid.

Farid yang dulunya juga anggota Paskibraka memandang latihan yang dilakukan Aurellia sungguh berlebihan dan memberi beban psikologis.

“Jadi campur tangan senior di luar pelatih ini yang merupakan teror beban psikologis yang sangat luar biasa,” ucapnya.

Perubahan Sikap Aurellia

Sebelum Aurellia menghembuskan napas terakhir, Farid sudah merasakan perubahan sikap putrinya selama dua minggu terakhir.

Perubahan sikap Aurellia itu di antaranya jadi pendiam dan kerap mengungkapkan rasa kangennya kepada kedua orangtua.

Padahal Aurellia dikenal sebagai anak yang aktif dan ceria, serta selalu baik-baik saja ketika ditinggal bekerja oleh kedua orangtuanya.

Farid menyebut selama dua minggu terakhir Aurellia kerap meminta orang tuanya cepat pulang karena rasa rindunya.

“Tadinya anaknya sangat ceria. Dua minggu terakhir dia pendiam dan selalu mengharapkan kedua orang tuanya cepat pulang karena dia kangen,” kenang Farid.

Farid juga menceritakan bagaimana lelahnya Aurellia menjalani latihan Paskibraka.

Pihak keluarga sempat meminta Aurellia berhenti dari Paskibrakanamun ia tidak mau.

“Dia (Aurellia) sampaikan bahwa sebenarnya dia capek, tetapi ketika kita sampaikan ‘sudah berhenti saja’, dia tetap enggak mau,” ujar Farid.

Kata Dispora Tangsel

Dilansir, menurut Kabid Dispora Tangerang Selatan, Endang, dalam unggahan kanal YouTube Indosiar, Jumat (2/8/2019), pihaknya akan segera melakukan evaluasi.

Menurut Endang, dengan adanya evaluasi itu nantinya diharapkan akan menemukan kekurangan-kekurangan dalam latihan Paskibraka yang bisa diperbaiki.

“Saya mengucapkan belasungkawa, kami akan coba barangkali ke depan evaluasi yang mungkin untuk perbaikan kita bersama.”

“Untuk mencegah hal-hal barangkali kalau misalnya dari sisi latihan, apa yang menjadi kekurangan barangkali kita akan coba lengkapi,” kata Endang.

(suarabinjai.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here