Kisah Guru Honorer Bersepatu Bolong, Menangis Dihadiahi Motor hingga Hampir Dipukul Pengemudi Mobil

0
129

Suarabinjai, – Panji Setiaji (29) tak kuasa menahan air matanya saat menerima kejutan berupa sebuah motor, Rabu (22/1/2020).

Guru honorer di Sekolah Dasar (SD) Babakan, Kecamatan Cibeureum, Sukabumi, Jawa Barat itu spontan bersujud syukur saat mendengar dirinya mendapatkan motor sumbangan dari Sahabat Kristiawan Peduli (SKP) dan donatur lainnya.

“Waktu itu saya tidak bisa menahan air mata. Saya hanya berdoa, ya Allah ini rezeki dari Allah yang tak disangka-sangka, dari orang yang peduli,” kata Panji.

Selain sebuah sepeda motor, Panji juga mendapatkan sepatu dan tas.

Tangisan Panji bukan tanpa alasan. Sebab benda-benda yang dihadiahkan padanya membuat Panji teringat perjuangan hidupnya selama ini.

Hampir dipukul gara-gara sepeda motor 

Panji mengisahkan, sebelumnya ia memiliki sebuah sepeda motor.

Namun sepedanya tersebut sering kali mogok.

Pernah pada suatu kali, Panji hampir dipukul oleh seorang pengemudi mobil lantaran sepeda motornya mogok di tengah jalan.

Namun, sepeda motor tersebut rupanya membawanya bertemu dengan Kristiawan Saputra, pendiri komunitas SKP yang menghadiahinya sepeda motor.

“Saat itu sepeda motor saya mogok di samping rumah Pak Kris, lalu dibantu. Pak Kris juga menelusuri kehidupan saya sebagai guru honorer,” kata Panji.

Sepatu bolong 

Kris, kata Panji, menyempatkan datang ke rumah Panji dan mengikuti kegiatannya.

Saat itulah terkuak, sepatu yang dikenakan Panji beraktivitas sehari-hari bolong di bagian bawah.

“Pada saat memakai sepatu, Pak Kris melihat sepatu saya bawahnya bolong,” tuturnya.Tak hanya itu, tas yang dikenakan Panji pun telah robek.

Dengan gaji Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per bulan sebagai guru honorer, Panji belum bisa membeli sepatu dan tas baru.

Maka selain sepeda motor, Panji juga mendapatkan kejutan sebuah sepatu dan tas.

Penggemar matematika

Panji masih memiliki impian di hidupnya. Ia ingin melanjutkan pendidikan matematika untuk mematangkan ilmunya.

Sebab, matematika menjadi pelajaran kegemaran Panji sejak ia duduk di bangku SD.

Ia pun bercerita pengalamannya diminta membantu teman-temannya semasa bersekolah.

“Saat ujian, ketika pengawasnya tidak ada, maka ribut kumpul ke saya. Mereka ingin diajarin, dibantu pengerjaannya. Waktu itu saya masih ingat tentang statistika. Saat SMA memang saya dijuluki kalkulator berjalan,” kata Panji.

Panji merupakan lulusan D3 Manajemen Informatika Citra Buana Informatika.

Ia menimba ilmu di bangku perkuliahan sambil bekerja. Uang yang diperolehnya digunakan untuk membiayai kuliah dan membantu ibunya.

Panji mengabdi sebagai pengajar selama enam tahun lamanya. Namun di SD tersebut, ia menjadi guru honorer sejak enam bulan lalu.

(suarabinjai.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here