Merdeka Belajar ‘MAGIC’ Refleksi Hari Pendidikan Nasional

0
183

Penulis : Edi Salim Chaniago (Kepala SMP Negeri 14 Binjai)

“Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar” adalah tema yang ditetapkan untuk memperingati hari pendidikan nasional tahun 2021 ini. Tema tersebut terlihat sederhana, namun sarat akan makna tujuan pendidikan nasional. Dalam tema tersebut, merdeka belajar nampaknya masih menjadi isu sentral di era kepemimpinan Mas Nadiem Makarim. Kali ini, frasa depan tema tersebut menjadi proses kunci untuk mewujudkan merdeka belajar, yaitu serentak bergerak. Penulis menafsirkan bahwa pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi menginginkan terjadinya proses massif dan sistematis terhadap proses merdeka belajar oleh semua lapisan, baik itu linkungan keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara yang dikenal dengan Tri Sentra Pendidikan (Tri Pusat Pendidikan). Pahlawan pelopor pendidikan di Indonesia ini menyatakan bahwa lingkungan keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan memiliki peran dalam proses pendidikan yang saling mengisi dan memperkuat satu dengan yang lainnya.

Tema ini menarik untuk ditelusuri lebih dalam lagi. Fakta yang ditemukan dalam proses pendidikan adalah lingkungan keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan terkesan berjalan sendiri-sendiri. Bukannya bersinergi untuk saling menguatkan, ketiga komponen ini malah saling melemahkan dan mencari kesalahan masing-masing. Lingkungan keluarga menyalahkan masyarakat, masyarakat menyalahkan satuan pendidikan, dan begitu seterusnya sampai menjadi benang kusut yang sulit diurai. Kekusutan ini menyebabkan proses merdeka belajar sulit untuk diwujudkan.

Sebagai seorang praktisi pendidikan, penulis menilai bahwa penyebab terjadinya kekusutan ini adalah kekurangfahaman ketiga komponen tersebut tentang proses pendidikan merdeka belajar. Sejak diluncurkan sebagai sebagai sebuah gebrakan transformasi pendidikan, merdeka belajar belum memiliki konsep yang konkret dan terukur baik secara teoritis maupun secara empiris. Untuk dapat dijadikan sebagai filosofi perubahan, merdeka belajar seharusnya memiliki indikator yang jelas dan terukur sehingga lingkungan keluarga, masyarakat, dan terutama satuan pendidikan dapat menerapkannya dalam memproses peserta didik menjadi manusia terdidik.

Dalam tulisan ini, penulis menawarkan satu konsep konkret merdeka belajar yang disebut dengan Merdeka Belajar MAGIC. MAGIC adalah abrevasi dari kata Mandiri, Apresiatif, Gembira, Intim, dan Cerdas. Kelima kata kunci ini dapat dijadikan indikator untuk mengukur proses merdeka belajar yang serentak di rumah, di tengah masyarakat, dan di sekolah.

Mandiri

Mandiri yang dimaksud di sini adalah kemampuan anak untuk menemukan potensi, bakat, dan minat yang mereka miliki. Ada kekhawatiran kalau anak malah kehilangan bakat dan potensi yang dia miliki ketika dia berada di sekolah, di rumah, dan di tengah masyarakat. Jika mereka mengenal dirinya dengan baik, tentu mereka akan mudah membuat regulasi diri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Merdeka belajar hendaknya diberikan ruang seluas-luasnya untuk mengembangkan bakat dan potensi masing-masing. Dengan demikian kemandirian mereka dalam belajar dan bergaul di sekolah, di rumah dan di masyarakat dapat terlaksana.

Apresiatif

Mari kita melihat suasana belajar di taman kanak-kanak. Ketika guru mengajukan permintaan seperti, “Ayo, anak-anak, siapa yang mau menyanyi di depan kelas?” Pada umumnya semua anak akan dengan senang hati mengacungkan tangan sambil berkata, ‘Saya bu guru’. Mereka berlomba untuk mau tampil di depan kelas. Lalu mari kita lihat ke dalam kelas-kelas jenjang yang lebih tinggi, SD, SMP, dan SMA. Ajukan pertanyaan yang sama. Maka pada umumnya guru akan menunggu lama peserta didik yang mau maju ke depan dengan suka rela, sampai akhirnya guru menunjuk salah seorang peserta didik. Peserta didik tersebut pun mau maju dengan bujukan guru atau bahkan ancaman guru.

Mengapa itu terjadi? Penulis menduga itu terjadi karena peserta didik di taman kanak-kanak kaya akan apresiasi dari guru. Sejelek apapun penampilan mereka, guru tetap memberi apresiasi. Peserta didik dibiarkan berproses sambil tetap diluruskan dengan cara yang halus. Namun yang terjadi pada jenjang pendidikan selanjutnya adalah ketakutan peserta didik untuk tampil di depan kelas atau orang banyak karena terlalu banyak kritik bahkan ejekan yang mereka terima ketika mereka tampil. Mereka trauma, sehingga walaupun mereka tahu, mereka tak ingin tampil karena takut ditertawakan atau dipermalukan oleh guru dan teman sebayanya.

Apresiasi dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik untuk mau mencoba hal-hal yang baru. Guru, orang tua, dan masyarakat seharusnya menghilangkan kebiasaan mencemooh anak ketika mereka melakukan kesalahan. Kalau pun peserta didik melakukan kesalahan, tempat menegurnya bukanlah di depan umum. Rendahnya apresiasi dari guru, orang tua, dan masyarakat akan mematikan kreativitas peserta didik. Mereka akan menjadi manusia pasif; melakukan sesuatu karena paksaan atau tuntutan tugas saja. Kondisi ini sampai pada ketika mereka masuk ke dalam dunia kerja. Mereka ragu untuk berbuat karena takut salah.

Gembira

Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah taman siswa sebagai isyarat bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan untuk bermain dan belajar. Bukan hanya sekolah, lingkungan rumah dan masyarakat harus benar-benar menjadi taman yang menyenangkan bagi peserta didik. Peserta didik merasa senang berada di sekolah, senang berada di rumah, dan senang berada di tengah masyarakat. Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, tentu peserta didik harus bebas dari tekanan dan intimidasi. Kepala sekolah dan guru diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan di sekolah dengan variasi metode pembelajaran yang ramah dan tepat sasaran. Memberikan pembelajaran bermakna dan menghilangkan sekat ruang-ruang kelas sebagai tempat membosankan untuk mendengar ceramah guru, tanpa praktik nyata. Di rumah, hal yang tidak menyenangkan dapat saja terjadi akibat perbuatan orang tua yang menuntut anak menjadi yang terbaik, tanpa memberikan contoh. Di masyarakat orang dewasa juga harus ikut andil memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak untuk bermain. Prilaku buruk orang dewasa di tengah masyarakat dapat merangsang kebingungan anak dalam menyesuaikan kata dan tingkah.

Intim

Hubungan antara guru, orang tua, dan masyarakat harus dibangun dengan penuh keakraban. Tidak ada jarak pembatas antara guru dengan peserta didik, orang tua dengan anak, dan orang dewasa dengan anak kecil. Komunikasi menjadi penting untuk mewujudkan hubungan yang akrab. Peserta didik harus diayomi dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Keakraban yang dibangun akan membuat peserta didik berani mengungkapkan permasalahan yang mereka hadapi dan belajar dan bergaul sehingga mereka tidak mencari pelarian dengan melakukan hal-hal negatif.

Cerdas

Kecerdesan tidak hanya terputus pada kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual juga harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Selama ini kecerdasan hanya diukur dengan kemampuan menyelesaikan soal Matematika dengan benar. Guru dan orang tua sering terlalu menuntut anak untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan. Padahal, kecerdasan intelektual hanya sedikit bobotnya untuk menentukan kesuksesan anak. Guru dan orang tua diharapkan mampu memberikan muatan karakter dalam proses pendidikan merdeka belajar.

Merdeka belajar dapat diwujudkan dengan menggunakan konsep Magic. Dengan indikator Magic, sekolah, rumah, dan dan masyarakat dapat menjalin kerja sama yang berkelanjutan. Tri pusat pendidikan harus memberikan kemerdakaan peserta didik yang sistematis.

Suarabinjai.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here