Pengusaha Galau, Jual Bus Kopaja Bekas Dikiloin Hanya Rp 10 Juta

0
727

Suarabinjai, — PEREMAJAAN angkutan umum sudah diamanatkan lewat Perda Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi.

Peremajaan dimulai sejak 2016 dengan tenggat waktu tiga tahun.

Namun, para pemilik bus Kopaja tengah memikirkan langkah untuk kembali bergabung dan mengganti armadanya dengan Trans Kopaja atau dikenal juga dengan sebutan Minitrans.

Efendi, pemilik lima armada Kopaja sedang galau. 

Ia menyatakan enggan bergabung lantaran harga satu bus yang ditawarkan dinilainya cukup mahal.

“Saya dengar-dengar sih Rp 80 juta ya kalau mau gabung,” kata Efendi di Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

Oleh sebab itu, Efendi berniat untuk menjual bus tersebut kepada pengusaha besi agar armadanya yang tak boleh dioperasikan itu–karena usianya sudah lebih dari 10 tahun–masih bisa menghasilkan uang meski jumlahnya tak banyak.

“Lima tahun lalu saya beli satu bus Rp 100 juta. Sekarang kalau mau dikiloin cuma dapat Rp 10 juta. Mau bagaimana lagi,” keluhnya.

Pemilik bus Kopaja lainnya, Rusmanto menuturkan akan meminjam uang kepada bank agar bisa membantunya menyicil bus.

Menurutnya komponen pembayaran dibagi menjadi dua yakni Rp 40 juta untuk membayar mobil dan Rp 40 juta sebagai biaya operasional.

“Paling nyari pinjaman nanti. Ya mudah-mudah bisa disetujui,” kata Rusmanto.

Tak hanya itu, Rusmanto memperkirakan masih harus mengeluarkan kocek sekira Rp 10 juta lagi untuk mengurus dokumen perizinan dan lainnya.

“Makanya nih pusing juga. Kumpulin uang dari mana? Penumpangnya sekarang sudah sepi. Saya pribadi sih mau ikut,” tuturnya.

Keuntungan dengan bergabung di bawah naungan PT Transjakarta adalah bus nantinya berstatus hak milik.

Operasional bus tersebut diatur oleh koperasi yang beberapa awaknya juga telah bergabung dengan PT Transjakarta sejak 24 Juni 2015 silam.

Sementara itu, Direktur Utama PT Metromini Nofrialdi mengatakan Minitrans yang ada sekarang ini bukan bagian dari PT Metromini.

Menurut Nofrialdi mereka yang bergabung dengan PT Transjakarta menjadi Minitrans merupakan individu.

“Minitrans anggota Metromini tapi bukan bagian dari PT Metromini, itu orang per orang. Ini kami baru mau mulai sekarang,” ucapnya.

Sepengetahuan Nofrialdi, ada sekitar 30-40 orang pemilik bus Metromini yang bergabung dengan PT Transjakarta dan beralih menjadi Minitrans.

Sejauh ini jumlah bus Metromini yang bergabung ada sekitar 80 unit.

Lebih nyaman

Minitrans adalah bus kota nonbusway yang menjadi bagian dari layanan bus PT Transjakarta.

Bus ini hadir efek peremajaan armada bus-bus kota di Jakarta yang sudah tidak layak seperti Metromini.

Minitrans menggunakan bus ukuran sedang. Seperti Metromini, Minitrans juga menggunakan warna ciri khas oranye yang bisa mengangkut 30 penumpang: 17 duduk dan 13 berdiri.

Minitrans berfungsi sebagai bus pengumpan atau feeder.

Dalam artian, bus tersebut akan menjadi penghubung penumpangnya dari beberapa titik bus setop ke halte Transjakarta (dari luar koridor ke dalam koridor).

Sedangkan Metrotrans merupakan versi besar dari Minitrans.

Tapi Metrotrans dapat berfungsi seperti Transjakarta dan bisa menjadi pengganti Metromini yang tidak masuk dalam jalur khusus.

Saat Warta Kota menjajal Minitrans, fasilitasnya tak berbeda jauh dengan bus Transjakarta.

Sedangkan untuk Metrotrans, armada itu beredar selayaknya bus kota.

Metrotrans dapat berhenti (menaikkan dan menurunkan penumpang) di area nonkoridor yang telah terdapat tanda bus stop.

Daya tampungnya sebanyak 42 kursi yang dilengkapi fasilitas penyandang disabilitas

Dilengkapi AC

Bagaimana dengan Minitrans? Tak seperti Metromini, Minitrans dilengkapi AC, menggunakan sistem pembayaran elektronik (tap in), serta tombol setop untuk tanda pengingat ke sopir.

Retno (28), salah seorang penumpang, mengaku sangat menikmati layanan Minitrans.

Meski begitu, ia menilai masih banyak pekerjaan yang harus dibenahi di antaranya terkait estimasi perjalanan.

“Kalo untuk moda transportasinya saya rasa sudah cukup bagus, apalagi nanti ada MRT dan LRT. Hanya saja yang menjadi pekerjaan rumah itu estimasi perjalanannya, karena walau angkutannya nyaman, tapi kondisi jalanan masih macet, membuat sebagian warga mengurungkan niatnya untuk mengunakan transportasi umum,” ucapnya.

Retno berharap dengan kemajuan transportasi saat ini, perlu ada pembenahan-pembenahan secara bertahap, dan bagaimana cara pemerintah untuk bisa mengubah masyarakat untuk beralih ke angkutan umum.

“Sebenarnya ini juga perlu kesadaran masyarakat selain campur tanggan pemerintah tapi setidaknya saya cukup mengapresiasi perkembangan transportasi di Jakarta ini,” ucapnya. (suarabinjai.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here