SANTET, ENERGI, & ROH MANUSIA

0
130

Mengapa manusia bisa kena santet? Dan kenapa ada kasus manusia disantet sudah berobat ke mana2 tidak bisa sembuh? Tapi setelah mencoba mengobati sendiri malah sembuh?

Santet sebenarnya bermain dengan energi. Dukun dan pemesan santet harus dalam kondisi yang marah / benci / iri sekali sampe mentok. Baru energinya ngumpul dan santetnya bisa dikirim. Itupun pakai titipan setan karena setan bergerak dengan sangat cepat.

Saya pernah baca blog seorang dukun. Setan dan malaikat itu bergerak dengan kecepatan cahaya. Sedangkan benda apapun jika bergerak dengan kecepatan cahaya dia bisa hancur jadi partikel extra kecil. Tapi ketika diam, dia kembali ke bentuk semula. Kayak di film2 gitu. Makanya barang santet bisa ditanam di tubuh manusia.

Nah, untuk bisa kena ke korban, korban harus dalam energi dimensi bawah dulu. Yakni dalam kondisi depresi / stress / kesepian / sedih / marah. Setan dan jin hidup dalam dimensi / level energi bawah seperti ini. Jika manusia sudah turun ke energi bawah begini, baru setan santetnya bisa anchoring (menjangkar) si korban dan santetnya kena.

Makanya korban santet biasanya kena ketika dalam kondisi depresi/stress/sedih. Kalaupun korban tidak sedih, biasanya pelaku santet akan cari masalah atau berusaha menekan mental si korban supaya stress / depresi betulan. Baru disantet.

Untuk menyembuhkan santet sebenarnya mudah. Korban tinggal harus menaikkan level energinya ke energi dimensi atas (netral / syukur / bahagia / tercerahkan). Karena di dimensi atas, setan dan santet ga bisa bekerja. Soal level energi selengkapnya bisa googling sendiri “Skala Hawkins” yah.

Uniknya level energi dimensi atas ini adalah tempat hidupnya makhluk2 gaib positif, seperti malaikat, peri, dewa, dan roh orang2 yg meninggal khusnul khotimah.

Untuk menaikkan energi ke level dimensi atas itu banyak orang kadang bingung bagaimana caranya. Di sinilah meditasi berperan. Meditasi itu seperti berzikir atau bahasa umumnya latihan memurnikan jiwa sehingga bisa benar-benar mengenali diri sendiri.

From : Lia lestari, Edit by Roy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here