Beranda LAINNYA NASIONAL Sehari Sebelum Meninggal, Sastrawan Damiri Mahmud Sempat Berhalusinasi Puisinya Dimuat di Koran

Sehari Sebelum Meninggal, Sastrawan Damiri Mahmud Sempat Berhalusinasi Puisinya Dimuat di Koran

-

Suarabinjai, – Sastrawan sekaligus kritikus sastra andal Indonesia, Damiri Mahmud tutup usia di kediamannya, Jalan Titi Payung Dusun 5, Hamparan Perak, Senin (30/12/2019).

Sehari sebelum meninggal, rupanya lelaki penerima Anugerah Pegiat Sastra ini sempat memberikan pertanda menghadap Maha Pencipta.

Pertanda untuk persi selamanya ia sampaikan kepada anak ketiganya, Kurnia.

Diceritakan Kurnia dengan nada pilu, sehari sebelum meninggal, dirinya dipanggil oleh Damiri.

Kepada Kurnia, Damiri berkata bahwa cucunya memberikan uang karena meminjam puisi Damiri dan memasukkannya ke koran.

“Dipanggilnya saya pagi-pagi, dibilang ”Anakmu Nafis kasih ayah duit karena minjam puisi ayah dimasukkan ke koran. Dapat dia duit terus disalaminya ayah”. Terus saya jawab tidak ada, karena Nafis pun masih tidur. Terus dia diam tertunduk. Dia bilang, “Seperti nyata kali ya”,” kata Kurnia menirukan percakapan dengan sang ayah.

Mengingat percakapan itu, tangis Kurnia pun seketikan pecah.

Ia tak menyangka itulah pertanda kepergian sang ayah, Damiri Mahmud.

Ia menunjukkan ruang kerja Damiri yang dipenuhi buku, kamus bahasa Indonesia, dan sebuah mesin tik tempat ia biasa menuliskan karya-karya hebatnya.

Di dinding ruang tamunya, terdapat puisi Damiri yang berjudul Takbir, tertulis di sebuah papan berukuran besar. Selain itu beberapa penghargaan menghiasi dinding ruang tamu.

Kurnia menunjukkan dua buku terakhir Damiri Mahmud, selain buku berjudul rumah tersembunyi Chairil Anwar, terdapat pula buku antologi puisi yang berjudul Menjadi Tanah.

Di belakang buku tersebut tertulis sebuah puisi, berisi:

“Aku hanya serabut halus dan lemah, merayap tak kenal lelah dan mencucuk selangkang tanah, ketika buah membesar rahum dan memerah, engkau lupa kepada yang berada di bawah

Berayun-ayun mempertontonkan diri kepada langit kelihatan anggun dan pongah. Tapi engkau tak tahu bukan, tangkaiku mengapa begitu tungkai dan lemah.

Sejak itu setiap hari aku selalu digoda kejatuhan menjadi ulat menjadi cendawan, kembali menjadi tanah”.

(suarabinjai.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA UTAMA

Cepat Redam Rusuh Rutan Kabanjahe, TJI Apresiasi Kapoldasu

Jakarta, SB Direktur The Jakarta Institute Reza Fahlevi mengapresiasi penanganan cepat dan tepat Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Martuani...

Mantan Kapolres Binjai Serah Terima Jabatan Menjadi Kapolres Jepara Di Mapolda Jawa Tengah

Jepara, SB Mantan Kapolres Binjai, AKBP Nugroho Tri Nuryanto SH, SIK, MH, Serah Terima Jabatan...

Bawa 50 Gram Diduga Sabu Ham di Tembak Polisi

Binjai, SB Satresnarkoba Polres Binjai berhasil mengamankan dua tersangka kurir narkotika di jalan Soekarno Hatta kelurahan Tunggurono kecamatan Binjai...

KPU RI Kunjungi Binjai, Evi : Binjai Siap Terapkan e-Rekap di Pilkada 2020

Binjai, SB Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) menyebut Kota Binjai merupakan salah satu...

Raih Medali di Kejurnas Bandung, Kapolres Binjai Beri Apresiasi Kepada Atlit Porkemi

Binjai, SB Kapolres Binjai AKBP Nugroho Tri Nuryanto memberikan apresiasi kepada para atlit Porkemi Binjai yang berhasil meraih medali...