Terdakwa Ramona Buka-bukaan di Sidang, Dipaksa Polisi Rekayasa Rekonstruksi Pembunuhan Istrinya

0
114

Suarabinjai–Sejumlah kejanggalan perkara pembunuhan terdakwa Ramona Sembiring (21) yang mulai terkuak.

Di hadapan majelis hakim dan di bawah sumpah Ramona mengaku telah dipaksa polisi melakukan rekayasa saat rekonstruksi pembunuhan istrinya Raskami Surbakti yang sedang berbadan dua.

Pengakuan Ramona terungkap setelah majelis hakim mengonfrontir keterangan ahli forensik dan penyidik Polres Binjai, Aipda Musliadi yang berbeda.

Dimana Aipda Musliadi menyebut terdakwa mengakui perbuatannya sepenuhnya dan tidak ada pemaksaan atau rekayasa.  

“Waktu dia memerankan rekonstruksi itu apakah memang begitu diakuinya sendiri? Mayat tadi ditemukan pakai baju atau tidak? Ada gak dibenturkan dengan benda tumpul seperti dikatakan ahli forensik?” Tanya hakim Dedy yang didampingi hakim Aida dan Tri kepada penyidik di ruang Cakra PN Binjai, Kamis (6/8/2020).

“Mayat tidak pakai baju, hanya tinggal celana dalam di ujung kakinya, pas dibawa ke rumah sakit dilepaskan celana dalamnya itu. Kalau dalam rekonstruksi terdakwa ada menendang, lalu memukul dada dan membentuk kepalanya,” kata penyidik Polres Binjai Aipda Musliadi.

Hakim kemudian mengonfrontir jawaban penyidik yang terkesan janggal dengan ahli forensik, dr Agustinus Sitepu. Dan langsung dibantah mentah-mentah.

“Tidak mungkin mati kalau hanya begitu saja, kacuali pelaku punya kekuatan seperti Muhammad Ali atau Mike Tyson (petinju legendaris yang terkenal dengan pukulan mematikan). Dan melihat tubuh terdakwa saya tidak yakin dia bisa punya kekuatan seperti Muhammad Ali atau Mike Tyson. Dan pendarahan korban itu di kepala atas bukan kepala samping,” beber saksi ahli forensik.

“Artinya secara science tidak mungkin ya, karena pendarahan di kepala atas, kalau dibenturkan pasri kepala samping yang pendarahan. Dan lebih pas dihantam benda tumpul dari atas dengan sangat keras,” hakim Dedy merangkum keterangan ahli.

Selanjutnya keterangan ibu terdakwa juga berbeda dengan apa yang disampaikan terdakwa kepada penyidik.

Ada perbedaan, terdakwa mengaku telah dipaksa melakukan rekayasa oleh polisi, dan majelis tidak yakin motivasi pembunuhan hanya sebatas cekcok mulut.

“Jadi cemana itu menurutmu Ramona keterangan polisi dan ibumu?” tanya hakim Dedy.

“Saya telah merekayasa pak, disuruh sama pak polisi. Saya diarahkan sama pak polisi ini pak hakim,” ungkap Ramona sambil menunjuk penyidik yang dihadirkan ke persidangan.

Usai mendengar jawaban Ramona, hakim menunda persidangan untuk selanjutnya menghadirkan saksi yang meringankan bahwa terdakwa telah terpaksa merekayasa rekonstruksi atas arahan polisi.

Hakim juga akan terjun langsung ke lokasi kejadian demi menemukan titik terang misteri pembunuhan Raskami Surbakti.

“Sidang dilanjutkan Selasa, Saya juga akan turun langsung mau lihat lokasi kejadian. Karena ini kasus pelanggaran hak azasi manusia yang tinggi, karena menyangkut nyawa dan hak hidup,” pungkas Hakim Dedy.

(Suarabinjai.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here