Jadi Narasumber di Acara Seminar MD KAHMI, Djohar Arifin Minta Tingkatkan Pendidikan Karakter Usia Dini

0
40

Binjai –

Pendidikan berkarakter di Indonesia nyaris tidak pernah diajarkan bagi para siswa yang menimba ilmu di Indonesia. Namun, bahasa Asing diajarkan para tenaga pendidik sejak usia dini, yaitu sejak memasuki Taman Kanak Kanak (TK).

Hal itu dikatakan anggota Komisi X DPR RI dari fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prof Dr Ir Djohar Arifin Husin, saat menjadi narasumber dalam acara “Seminar Nasional (Hybrid) Moderasi Beragama” yang digelar oleh Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Binjai, di Pendopo Umar Baki, Jalan Veteran, Kelurahan Tangsi, Kecamatan Binjai Kota, Kamis (4/8).

Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang salah satu lingkup tugasnya dibidang Pendidikan, Djohar mengaku sangat menyesalkan hal itu. Dirinya mencontohkan, beban pendidikan di Indonesia luar biasa berat. Sebab anak anak tingkat bawah dari Sekolah Dasar, SMP, SMA, jika dibandingkan dengan negara Jepang, memang lebih ringan.

“Jadi kalau mata pelajaran anak SD kelas lV di sini, sama dengan mata pelajaran kelas VI di Jepang,” ungkap Djohar.

Namun dari segi karakter dan disiplin, lanjut pria kelahiran Tanjung Pura ini, negara Jepang lebih diatas. “Disinilah letak kelemahan kita karena pendidikan karakter hampir tidak nampak, sehingga kejujuran itu tidak jadi pribadi yang utama bagi anak anak sekolah kita,” beber Djohar Arifin Husin.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI ini juga menambahkan, karakter berjuang bagi anak anak Indonesia untuk mencari kebenaran itu juga dinilai hampir tidak ada. Sebab tidak di berikan ilmu seperti itu.

“Berbeda dengan negara negara maju, mereka mendahulukan itu dari ilmu pengetahuan. Makanya di negara kita harus di rubah kalau mau baik kepribadian, kejujuran, moralitasnya,” ujarnya.

Disinggung siapa yang patut dipersalahkan dalam hal pendidikan berkarakter yang hampir hilang dan tidak pernah diajarkan lagi, pria yang pernah menjadi pengurus FIFA ini dengan tegas menjawab bahwa yang patut dipersalahkan adalah yang membuat Kurikulum.

“Yang patut dipersalahkan ya yang membuat Kurikulum,” tegas Prof Dr Ir Djohar Arifin Husin, seraya berharap semoga Indonesia mampu menjadi ujung tombak untuk membangun karakter.

Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Djohar juga mengakui bahwa pihaknya sudah memperjuangkan Beasiswa bagi pelajar dan program Sarjana S1.

“Jadi untuk di Binjai ada sekitar 8 ribu yang akan mendapatkan Beasiswa,” demikian ungkap Djohar.

Beberapa narasumber lainnya juga hadir dalam Seminar Nasional yang dipandu oleh Ketua MD KAHMI Binjai, Hery Dani Lubis. Diantaranya, Ketua MUI Binjai HM Djamil, Sekjen Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Indonesia/ADPISI, yang juga Sekretaris Komisi Luar Negeri MUI Pusat Dr H Andy Hadiyanto MA, serta Walikota Binjai Drs H Amir Hamzah MAP.

Dalam Seminar Nasional ini, beberapa permasalahan pun juga dikupas oleh para narasumber, seperti melawan Islamofobia, merangsang para remaja untuk mencintai mesjid hingga Beasiswa bagi para pelajar.

“Alhamdulillah, PBB sudah mengumumkan bahwa tanggal 15 Maret diperingati sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia,” ucap narasumber.

Sementara itu, Walikota Binjai Drs H Amir Hamzah M.AP, menyampaikan apresiasinya kepada pihak penyelenggara.

Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini dihadiri juga oleh Ketua Komisi II DPR RI Fraksi Golkar sekaligus Ketua Presidium Majelis Nasional Kahmi Dr Ahmad Doli Kurnia Tanjung MT, Ketua Umum Kahmi Sumut H Rusdi Lubis SH M.Ma, Kaban Kesbangpol Binjai Drs HT Syarifuddin M.Pd, Ketua Dewan Pakar MD Kahmi H. Syaril Nasution, MA, Plh. Kesbangpol Sumut Alfian Hutauruk, perwakilan Polres Binjai, perwakilan Kodim 0203/Lkt, serta perwakilan Kakan Kemenag Binjai.

Menurut Amir Hamzah, Kota Binjai yang memiliki ragam etnik tetap mampu hidup rukun berdampingan. Semua keberagaman yang ada mampu mewujudkan nilai religius tanpa menghilangkan adat istiadat yang ada.

“Saya berharap dengan kegiatan ini, dapat menjadikan masyarakat lebih religius sehingga memiliki pemikiran yang modern, beretika, bertata krama, sopan santun, dan memahami nilai-nilai keagamaan dan kerukunan antar umat beragama,” ucap Walikota Binjai. (Put)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here